Rabu, 21 Maret 2012

HARUS DIAPAKAN HIDUPKU INI???




MEREKA mengira umurku sepantaran dengan teman-teman sebayaku. Mereka selalu tak percaya ketika ku sebutkan umur 2 tahun lebih muda dari teman sebayaku. Yah, “boros” begitulah mereka sering menyebutnya.
Bagaimana tidak, sejak SD, sejak aku mengenal rasa tidak suka pikiranku tak lagi seperti anak kecil yang selalu diliputi rasa senang, bahagia, dan tanpa beban. Sejak umur 3 tahun, hidupku telah terpisah dari kedua orang tua dan adikku. Meski aku masih tinggal bersama tante dan nenekku tapi tentu saja berbeda.
Bertahun-tahun ku habiskan masa kecilku bersama nenek, tante, dan kakak sepupuku meski sesekali bapak dan ibu menengokku disini. Jarak kami memang tak terpaut begitu jauh karenanya ketika bapak rapat di luar kota disempatkannya untuk menengokku dan membawakan oleh-oleh untukku.
Lambat laun, entah kenapa ada sedikit keengganan dalam diriku untuk mengikuti ajakan bapak dan ibu untuk bermalam di rumah baru kami. Setiap weekend mereka selalu menjemputku di rumah nenek untuk dibawa bermalam selama 2 hari di rumah kami. Seperti orang asing ku perlakukan mereka. Mungkin karena itu keenganan ini muncul dalam diriku.
Dalam pergaulanku di madrasah aku pun mendapat perlakuan tak mengenakkan dari temanku yang umurnya lebih tua dariku dan malangnya aku tak mampu berbuat apa-apa untuk diriku. Aku begitu lemah dan penakut, aku hanya bisa memendam dalam hati tanpa bisa membalas.
Dan ketika SMP, aku telah mengenal blok-blok. Gank cewek-cewek popular dan gank cowok-cowok popular. Aku tak suka pada sikap mereka pada teman-teman dan lagaknya yang sok kuasa tapi lagi-lagi ku hanya bisa diam dan memendam.
Aku benci ketika aku tak dapat berkata. Aku benci ketika aku hanya bisa diam dan memendam. Aku benci tak bisa berbuat apa-apa. Aku penakut, aku tolol, aku bodoh. Aku benci diriku sendiri.
Dan pada akhir masa SMPku aku terasingkan dari kelompokku. Aku terdamapar di kelas baru yang tak kukenal penghuninya. Hanya segelintir yang bisa ku sapa dan ku ajak berbicara. Mengenaskannya hidupku. Namun tak ku sangka disinilah surge masa SMPku. Setidaknya ku rasakan secercah kebahagiaan dalam masa hidupku.
Memasuki SMA kembali ku rasakan pahitnya hidup. Aku diperdaya, dibodohi, dan dimanfaatkan. Dan lagi, aku tak bisa menolak ataupun membantah. Begitu lemahnya diriku. Banyaknya kenangan pahit itu membentukku menjadi sosok gadis yang pendiam dan acuh pada lingkungan dan tak kusangka hal itu membunuhku pada akhirnya.
Pasca kelulusan aku dihadapkan pada kenyataan bahwa bapak diPHK dan itu artinya aku terncam tak bisa meneruskan kejenjang perkuliahan. Tiap hari aku harus melihat bapak yang duduk dibalik meja kamarku dan aku pun harus mendengar omelan ibu yang menyuruh bapak segera mencari pekerjaan baru. Dan setiap pulang kerumah aku pun harus rela mendengar keluh kesah ibu tentang kondisi financial kami yang pas-pasan. Meski  ku akui ibu seorang pengatur keuangan yang handal tetapi tak terbayangkan jika kondisi seperti ini terus terjadi dalam keluargaku.
Menginjak perkuliahan kembali pikiranku diresahkan oleh kenyataan bahwa aku tak memiliki teman di sini. Aku sendiri ditengah ramainya suasana kampusku. Aku tak dapat bersosialisasi, aku tak bisa bergaul. Dan pada akhirnya ku menemukan tempat singgah yang memberiku sebuah keluarga baru di perantauan ini. Namun nyatanya hidupku belum berakhir happy ending.
Setahun berjalan tiba-tiba dipersembahkan musuh untukku. Tak ku inginkan tentunya tapi tak bisa kusangkal kehadirannya dan dia berhasil memperparah peliknya hidupku. Tak berhenti sampai disitu dalam proses perkuliahan pun aku merasa tak bisa apa-apa. Aku tak dapat mengetahui apa kelebihankku tapi aku bisa menyebutkan sejuta kelemahanku. Aku tak berani berkata, aku tak berani bertanya, aku tak dikenal, dan aku tak menyapa. Aku menolak sikapku ini tapi aku tak kuasa untuk merubahnya. Aku bingung harus diapakan hidupku ini?????

3 komentar:

  1. g usah di apa2in,van..
    biar ngalir aja,,
    hhehe..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe,geje kan.....???
      eh,pernah denger gak tapi.hidup itu gak boleh dibiarkan mengalir aj tapi harus ditrntukan akan bermuara dimana,jangan cuma mengikuti aliran arus.hehehe,berceramah jadinya....

      Hapus
  2. hehe..
    bener juga,c Van..
    sambil mencapai tujuan itu,biarkan semua mengalir apa adanya..(maksa..:p)

    BalasHapus